Posted by: raragita on: October 10, 2008
Sebuah Sayap malaikat. Ketika kecil saya pernah membaca sebuah kalimat seperti ini, “Masing-masing kita adalah malaikat bersayap satu, kita harus saling berpelukan untuk dapat terbang”. Saya tersenyum saat membacanya, so sweet. Malaikat bersayap satu, berarti kita harus menemukan seseorang yang lain, malaikat bersayap satu lainnya, untuk dapat terbang melihat dunia yang indah ini. Berarti kebahagiaan saya, apakah saya dapat terbang, bernyanyi bersama bintang-bintang, menyentuh pelangi, bermandikan sinar mentari, bermain di atas awan dan menikmati hidup ini, hanya bisa saya raih jika saya bersama orang lain?
Pertanyaan dan pernyataan itu memaknai hidup saya bertahun-tahun. Saya kira saya hanya akan bahagia jika bersama seseorang, dalam suatu kondisi dan sejenisnya. Ternyata tidak. Bertahun-tahun kemudian, sebenarnya belum lama ini, saya menyadari kita semua adalah malaikat yang memiliki sepasang sayap. Sayap yang indah, yang mampu membawa kita terbang ke angkasa. Hanya terkadang kita tak menyadari bahwa kita memiliki sayap tersebut.
Seseorang yang saya kagumi menceritakan kepada saya ilustrasi tentang ‘Elang Emas’, cerita tentang sebuah telur elang yang terjatuh dari sarangnya dan ditemukan oleh seorang petani. Oleh sang petani telur diletakkan di kandang ayam bersama telur-telur ayam yang kemudian dierami oleh induk ayam. Waktu berlalu dan telur ini pun menetas. Si anak elang dibesarkan bersama anak-anak ayam, dan dia berpikir dia adalah ayam. Hingga suatu waktu dia melihat seekor burung elang terbang dengan gagahnya membelah angkasa, dan dia merasa iri dengan burung elang tersebut.
“Mungkinkah aku terbang ke angkasa seperti burung elang itu?”, katanya kepada saudara ayamnya.
“Lupakan saja niatmu. Asal kamu tahu saja, burung itu adalah burung elang, salah satu raja dari pada para unggas, dan kamu adalah ayam, tempatnya di angkasa luas, dan tempatmu di sini”, jawab saudara ayamnya.
Elang yang dibesarkan bersama ayam menatap burung elang yang terbang di angkasa dengan pandangan kagum dan iri.
Kemudian waktu berlalu, dan seumur hidupnya burung elang ini mengira dirinya adalah ayam dan dia mati sebagai ayam, tanpa pernah menyadari dirinya adalah elang.
Kita semua adalah elang, kita diciptakan untuk terbang ke angkasa, untuk menikmati kehidupan dan untuk berbahagia. Jangan biarkan diri kita mati sebagai ayam ataupun sebagai malaikat bersayap satu. Kita diciptakan untuk berbahagia, untuk bersinar dan untuk berhasil. Kebahagiaan dan keberhasilan kita ditentukan oleh usaha kita, maukah kita melatih sayap-sayap kita untuk terbang.
Kita diberi 3 pilihan dalam kehidupan ini:
Pilihan kita itulah hidup kita. Melatih sayap-sayap kita mungkin berat, mungkin menyakitkan, mungkin kita harus jatuh berkali-kali, mungkin sayap kita patah atau terluka. Tapi ingatlah, teruslah mencoba, karena jika kita gagal 99x untuk terbang, mungkin pada percobaan yang ke 100 kita berhasil.
November 6, 2008 at 5:01 pm
Kadang-kadang yang diperlukan bukan semangat, pun kerap nonsense bila kegemaran mencoba bak kredo tanpa awal dan akhir, hingga si empunya dunia kelak luluh hatinya. Sekali lagi kayaknya tidak selalu seperti itu.
Barangkali the most important thing adalah kegairahan untuk menjadi. The art of “to be”! Jadilah elang sekarang. Ga usah nunggu obrolan ayam atau terlalu lama mengintip ke atas. Masa depan hanyalah permainan kata-kata dari hari ini dalam sudut pandang masa lampau.
So how fast ur paces are?